Cerpen
Bersyukur
Memasuki semester 2
bagi kelas 3 itu sangat melelahkan, karna akan banyak sekali kegiatan yang
harus dilaksanakan. Dimulai dari waktu belajar yang sedikit, harus melaksanakan
Try Out, ujian sekolah, ujian praktek, belum lagi harus pemantapan yang dilaksanakan
setelah selesai KBM, dan itu menurutku sangat melelahkan, tapi mau tidak mau
itu harus aku jalani setiap hari, dan puncak nya nanti bulan mei yaitu ujian
nasional.
Di semester 2 ini juga adalah waktu yang
membingungkan bagiku, karena aku masih bingung sekolah menengah atas mana yang
harus aku tuju. Aku coba mengkomunikasikannya dengan orang tuaku, yang pertama
aku tanya adalah ibuku.
"Bu,
aku di sekolah kan sudah mulai memasuki semester 2, jadi aku harus sudah mantap
akan melanjutkan kemana? menurut ibu bagaimana?" tanyaku pada ibu.
"Ibu
tidak akan memaksa kamu harus melanjutkan kemana, terserah kamu saja, ikutilah
kata hatimu, nak." jawab ibuku.
"Yasudah bu, nanti akan aku pikirkan lagi." jawabku.
Keesokan harinya, saat sedang berkumpul
di ruang keluarga, aku coba bertanya
kepada ayahku mengenai kelanjutan sekolahku. Tapi, jawaban ayahku semakin
membuatku bingung, karna jawaban ayahku sama dengan jawaban ibuku.
Kebiasaanku dan teman-teman saat pagi
kalau tidak ada guru, kami selalu pergi ke mushola untuk shalah dhuha. Setelah
selesai shalat dhuha, karena tidak ada guru kami ngobrol di kelas. Saat itu
temanku bercerita tentang sepupunya yang mendapat prestasi di sekolahnya.
"Eh,
kalian tau nggak, kemarin-kemarin sepupuku baru saja dapat prestasi loh!."
ujarnya pamer.
"Prestasi apa?." tanyaku.
"Dia
juara lomba musikalisasi puisi tingkat kabupaten." jawabnya.
"Memang sepupumu itu sekolah dimana?." tanya temanku yang
satunya.
"Dia
sekolah di SMA 1 CILIMUS, kalian tau kan, sekolahnya bagus loh, selain bagus
kata sepupuku sekolahnya itu sudah banyak sekali mendapatkan penghargaan, baik
dari siswanya maupun lomba antar sekolahnya. Keren banget ya!." jelas
temanku.
Saat temanku sedang bercerita, aku sangat
serius mendengarkannya, dan aku tertarik untuk masuk SMA itu, aku yakin aku
pasti bisa masuk SMA itu, ujarku dalam hati.
Minggu demi minggu berlalu, ibuku menanyakan
lagi mau kemana sekolah lanjutanku.
"Nak, jadinya mau kemana kamu melanjutkan sekolah?." tanya
ibuku.
"Aku
memilih SMA CILIMUS bu, aku tertarik masuk SMA itu setelah aku dengar cerita
dari temanku." jawabku.
"Oh,
yasudah jika itu pilihanmu, ibu hanya bisa mendoakanmu, semoga kamu diterima di
sekolah pilihanmu,ya."
"Iya bu, terimakasih atas doanya."
ujarku.
Ujian demi ujian telah kami lewati, dan kini
masuk awal bulan mei yang bagi kelas 3 sangat menegangkan dan menakutkan, karna
4 hari di bulan mei akan dilaksanakan ujian nasional.
Mengenai sekolah lanjutanku, itu semua sudah
diurus oleh pihak sekolah, kami tidak perlu repot-repot untuk mendaftar, karna
sudah didaftarkan oleh guruku ke sekolah yang akan kita tuju. Ternyata ada 21
siswa dari sekolahku yang mendaftar ke SMA CILIMUS. Awalnya aku pesimis, tapi
aku harus yakin kalau aku pasti di terima di sekolah itu.
Setelah kemarin melewati UN yang menegangkan,
hari ini aku dan teman-teman yang akan melanjutkan ke SMA CILIMUS diharapkan
hadir karna akan ada wawancara. Proses wawancara berakhir sampai pukul 02.00
siang, karna siswa yang mendaftar ke sekolah itu sangat bayak. Guru di sekolah
itu mengumumkan kepada kami semua bahwa lusa kami harus hadir lagi dengan
membawa beberapa persyaratan yang di tentukan.
Hari ini aku bersama teman-teman kembali lagi
untuk memberikan beberapa persyaratan, dan guru di sana menyampaikan bahwa
surat penerimaan siswa baru akan diberikan ke sekolah masing-masing. Hari demi
hari aku menunggu surat penerimaan itu, dan akhirnya hari ini suratnya akan di
berikan. Saat akan diberikan kami dikumpulkan di satu kelas, aku sangat tegang
pada saat itu. Nama siswa satu persatu di sebutkan, kali ini giliran namaku
yang di panggil. Aku menerima surat itu dengan tangan yang gemetar, lalu aku
keluat dari kelas itu. Di luar teman-temanku ada yang senang karena diterima
dan ada yang sedih karena tidak diterima. Aku mencoba untuk membuka amplop itu,
dan saat kubuka, ternyata aku diterima di SMA CILIMUS lewat jalur prestasi.
"Alhamdulillah!." teriaku kegirangan.
Aku
sangat bersyukur karena di terima di sekolah yang aku mau. Tapi, aku juga sedih
karena ada temanku yang tidak diterima, jadi temanku mencoba daftar lewat jalur
reguler.
Sesampainya di rumah, aku melihat ibuku sedang
shalat, aku tunggu ibuku sampai selesai shalat. Setelah selesai shalat, aku
berikan amplop itu pada ibuku.
"Apa
ini?." tanya ibuku heran.
"Itu
surat dari SMA CILIMUS, bu." jawabku.
Perlahan amplop itu di buka dan dibaca ibuku,
setelah dibaca, ibuku sangat senang.
"Alhamdulillah ya Allah! Nak, kamu di terima di SMA CILIMUS!."
kata ibuku kegirangan. Lalu ibuku memelukku dan mengucapkan syukur serta
memberiku ucapan selamat.
Tahun ajaran baru, kami
seluruh siswa baru mengikuti kegiatan PLS atau Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Kegiantan ini berlangsung selama tiga hari. Dihari pertama kegiatan ini kami
banyak diperkenalkan mengenai lingkungan sekolah seperti, ruangan-ruangannya,
kantin, koperasi, toga, mushola, sampai guru-guru pun diperkenalkan kepada
kami. Dihari kedua PLS, kami diperkenalkan berbagai macam ekstrakulikuler yang
ada di SMA CILIMUS. Mulai dari ekstrakulikuler basket, voli, silat, karate,
PMR, paskibra, pramuka, jurnalis, KIR ( Karya Ilmiah Remaja ), hammas, tata
boga, dan banyak lagi ekstrakulikuler yang lainnya. Satu persatu
ekstrakulikuler diperkenalkan kepada kami dengan semenarik mungkin, kakak kelas
memperkenalkan ekskulnya masing-masing supaya kami bisa tertarik untuk masuk
salah satu ekskul disana. Di hari ketiga PLS ini, kami disuruh memakai baju
pramuka, karena materi PLS dihari ketiga ini adalah kepramukaan.
Setelah tiga hari kami lewati untuk
mengikuti PLS, hatiku senang sekali karena kini aku sudah kelas 1 SMA. Memasuki
kelas X, aku masuk di kelas X IPA 3, di kelas ini aku banyak mempunyai teman.
Walaupun dari sekolah yang berbeda, kami saling berkenalan satu sama lainnya.
Hari demi hari kami lewati, karena sekolah kami full day dan untuk angkatan aku
menggunakan kurikulum tiga belas, jadi jam pelajaran kami ditambah sampai
ashar. Tapi walaupun full day, tugas sekolah kami tetap numpuk. Hari sabtu dan
minggu aku gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah, belum lagi kalau harus
kerja kelompok. Karena rutinitasku setiap hari dengan buku dan tugas sekolah,
aku sempat mengeluh dan menyerah dengan rutinitasku.
"Duh! Ini tugas banyak banget sih!." aku
mengeluh
"Jangan mengeluh begitu nak, kamu harus tetap
semangat dengan sekolahmu, walaupun tugas sekolahmu numpuk, coba kamu kerjakan
dengan ikhlas, pasti cepat selesai." kata ibuku memberi semangat.
Dari perkataan ibuku, aku mempunyai
sedikit semangat untuk mengerjakan tugas sekolahku.
"Iya, terima kasih bu, ibu memberikan sedikit
semangat untuku." jawabku.
"Iya nak, sama sama." jawab ibuku.
Hari demi hari, minggu demi minggu, dan
bulan demi bulan berlalu. Hari jum'at, pagi pagi aku bangun, tapi aku tidak
langsung mandi, yang kulakukan adalah memegang hp. Karena keasyikan bermain hp
aku tidak sadar aku tidak sadar kalau sudah siang. Ibukj membangunkanku.
"Nak, sudah siang! Mau sekolah kan?."
tanya ibuku sambil mengetuk pintu kamar ku.
Aku terkejut saat itu.
"Oh, iya bu, mau!!!." jawabku.
Ketika aku melihat jam dinding, ternyata sudah
menunjukan pukul 6 kurang 15 menit.
Karena panik, aku langsung lari ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, aku langsung
sikat gigi, dan cuci muka. Aku tidak terfikir untuk mandi karena sudah sangat
siang, tapi yang yang kupikirkan adalah cepat cepat sampai di sekolah supaya
tidak telat. Aku keluar kamar mandi dengan terburu buru, sesampainya di kamar
aku langsung berganti pakaian lalu menyiapkan buku, setelah siap aku langsung
berangkat dengan diantar ayah.
"Nak, kamu tidak sarapan dulu?" tanya
ibuku.
"Tidak bu, sudah siang nanti aku telat. Ya
sudah bu, aku berangkat ya." jawabku sambil mencium tangan ibuku.
"Ya sudah hati- hati, nak. " jawab ibuku.
Diperjalanan aku sangat panik, aku takut kalau
gerbang sekolah sudah di tutup. Ayahku mempercepat laju motornya supaya aku
tidak terlambat masuk sekolah. Sampai di sekolah ternyata gerbang sudah hampir
ditutup. Aku turun dari motor dan segera berlari sebelum gerbang ditutup.
"Pak! Pak! Gerbangnya jangan ditutup
dulu." teriaku sambil berlari.
"Ayo.. Cepat! Cepat! Ini sudah mau ditutup.
" kata bapak penjaga gerbang.
Aku terus berlari sampai akhirnya aku bisa
masuk sekolah, dan sesaat setelah aku masuk gerbang, gerbang itupun langsung
ditutup.
"Alhamdulillah.." ujarku.
Lalu aku langsung berlari menuju lapangan
untuk bergabung dengan siswa siswi lainya untuk mengikuti tadarus al-qut'an dan
dilanjut dengan literasi. Sampai di lapangan aku langsung mencari tempat duduk
dan tadarus pun di mulai. Setelah selesai tadarus dan literasi, semua siswa
siswi masuk ke kelas nya masing masing. Sampai di kelas aku langsung duduk di
tempatku, dan tidak lama guru mata pelajaran pertama masuk.
Pukul 10.00 adalah jam istirahat, aku diajak
teman temanku untuk ke kantin.
"Ke kantin yuk!." ajak temanku.
"Yuk!." jawabku.
Sesampainya di katin, tanganku masuk ke dalam
kantong bajuku untuk mengeluarkan uang, aku meraba raba kantong bajuku tapi aku
tidak menemukan uang jajan ku. Aku ingat ingat kembali di mana aku menyimpan
uang jajan ku, dan setelah aku ingat ternyata aku lupa untuk membawa uang
jajanku, gara gara tadi pagi kesiangan dan barangkat terburu buru.
"Tas, aku pinjam uangmu dulu boleh? Uangku
keringgalan." pintaku pada tasya.
"Oh. Iya boleh dong. " jawab tasya.
"Makasih ya, tas. Nanti uangmu pasti aku
ganti." jawabku.
"Iya tidak apa apa. Gampang itumah. "
jawab tasya.
Sesampainga di kelas, kami membuka jajanan
yang tadi kami beli di kantin.
"Uangmu ketinggalan?" tanya temanku.
"Iya nih, aku lupa bawa uang jajan gara gara
aku tadi pagi buru buru." kataku.
"Buru buru kenapa?" tanya temanku.
"Iya, jadi tadi pagi aku udah bangun pagi, tapi
aku tidak langsung mandi, malah aku main hp dulu, eh kebablasan deh, yaudah
jadi kesiangan." jelasku.
"Oh begitu." jawab temanku.
***
Memasuki semester ganjil, aku harus lebih giat
lagi belajar supaya nilaiku memuaskan. Ulangan Akhir Semester tinggal
menghitung hari, maka dari itu aku harus lebih sungguh-sungguh lagi belajarku.
Tapi, semua planingku berantakan yang tadinya aku mau belajar dengan
sungguh-sungguh, malah tidak dilaksanakan, yang kulakukan hanyalah memegang hp,
mulai dari bangun tidur, pulang sekolah, malam hari sampai mau tidur lagi yang
kulakukan hanyalah memegang hp. Bila ada ibuku, aku langsung pura-pura sedang
belajar, tapi jika ibuku sudah tidak ada aku langsung memegang hp kembali.
Setiap hari yang kulakukan hanya memegang hp saja, tanpa memikirkan bagaimana ulangan
esok hari. Aku belajar hanya saat pagi hari sebelum berangkat sekolah dan
ditambah di sekolah sebelum bel ulangan dimulai. Setiap hari rutinitasku ya
seperti itu, aku hanya memegang hp, tapi yang ibuku tau aku sedang belajar.
Setiap hari seperti itu tanpa ada rasa bersalah kepada orang tua khususnya
ibuku dan aku seperti tidak mempunyai tanggung jawab akan sekolahku. Hingga
pada akhirnya saat pembagian raport semester ganjilpun dibagikan. Saat
pembagian raport, nilai yang kudapat kurang memuaskan, hanya pas KKM. Saat
dilihat ibuku, beliau marah akan nilai yang kudapatkan. Beliau memarahiku
karena menurutnya belajarku kurang maksimal. "Memang betul belajarku
kurang maksimal,bu." ucapku dalam hati. Sejak saat itu aku baru menyadari
bahwa sekolah lebih penting dibandingkan hanya memegang hp setiap hari. Aku
sadar aku telah membuat ibuku kecewa dengan nilaiku, tapi aku berjanji aku akan
memperbaikinya disemester 2.
Disemester 2 ini aku sudah janji bahwa aku
harus memperbaiki nilaiku, aku harus belajar dengan sungguh-sungguh dan rajin
supaya nilaiku bisa sedikit membaik dari semester sebelumnya, dan aku bisa
menunjukan kepada ayah dan ibuku bahwa aku bisa berubah dan bisa memperbaiki
nilaiku.
Waktu memang bagitu cepat, tidak terasa 5
bulan begitu cepat berlalu, dan kini uang kuhadapi kembali adalah Ulangan Akhir
Semester genap. Untuk itu, aku mencoba untuk belajar yang rajin walau aku tau
godaan begitu berat. 1 minggu aku mengikuti Ulangan Tengah Semester, dan minggu
depan sudah dibagi raport kembali.
Hari ini perasaanku tak karuan, karena hari
ini raport akan dibagikan. "Semua siswa dan siswi memasuki kelasnya masing
masing!." intruksi dari pembina kesiswaan kepada semua siswa siswi yang
berkumpul dilapangan.
Akhirnya semua siswa
dan siswi memasuki kelasnya masing-masing, saat di dalam kelas aku tidak
henti-hentinya untuk terus berdoa supaya nilai yang kudapatkan bisa lebih baik
dari semester kemarin. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggupun tiba, ibu wali
kelas sudah berada di kelas dan sebagai pembukaan ibu wali kelas memberikan
sedikit sambutan dan motivasi kepada kami semua supaya kami di kelas XI bisa
lebih giag lagi belajar. Sebelum ibu wali kelas membagikan raport nya, ibu wali
kelas mengumumkan terlebih dahulu juara kelasnya. Setelah itu, ibu wali kelas
mulai membagikan satu persatu raport nya dengan menyebutkan nama siswa. Ketika
namaku disebut aku kaget, kemudian aku muali bangkit dari kursi dan melangkah
ke depan kelas untuk mengambil raport nya. Setelah semuanya mendapatkan raport,
ibu wali kelas memberikan ucapan selamat kepada kami semua dan selamat bertemu
kembali di kelas XI.
Saat teman-temanku sedang sibuk untuk melihat
nilainya masing-masing, justru aku takut untuk melihatnya, aku takut kalau
nilaiku lebih parah dari semester sebelumnya dan jika itu terjadi, otomatis
ibuku akan merasa kecewa sekali kepadaku.
"Kok ngga dilihat nilai raportnya? Buka dong,
aku mau lihat." tanya temanku.
"Ngga, nanti saja dilihantnya." jawabku.
"Tidak apa-apa, lihat saja, nanti kamu boleh
lihat nilai punyaku." rayu temanku.
"Tapi aku takut nilaiku lebih jelek dari
semester kemarin." jawabku.
"Jangan takut, nialiku juga ada yang kecil
kok." jelas temanku.
"Ya sudah kita lihat bareng-bareng ya."
kataku.
Sedikit demi sedikit raport mulai ku buka,
setelah aku buka aku sangat terkejut, ternyata nilai ku jauh lebih bagus dari
semester kemarin.
"Alhamdulillah.." tingkahku kegirangan.
Aku tidak menyangka
kalau nilai yang kudapat cukup baik bahkan sangat baik dari semester kemarin.
Sesampainya di rumah aku langsung memberikan
raportku kepada ibu, saat ibu melihatnya beliau juga sangat senang. Ibuku
mengucapkan selamat kepadaku, walaupun aku tidak juara kelas, tapi setidaknya
aku bisa membuktikan bahwa nilaiku bisa berubah menjadi lebih baik.
Terimakasih, banyak pelajaran yang bisa diambil. jadi sadar untuk tidak terus menerus memegang hp;)
BalasHapusKeren fit cerpen nya
BalasHapusππ
BalasHapusGood ππ»menarik dan bisa dapet pelajaran dari ceritanya
BalasHapusππ
BalasHapusπππ
BalasHapusπππ
BalasHapusπππ
BalasHapus